Tuesday, January 22, 2013

JAKARTA DARURAT BANJIR, PAPUA DARURAT PELANGGARAN HAM

Mypapua     2:10 AM   No comments

By. Andy U. Ogobay

Jakarta Darurat karena Banjir, Papua darurat Karena Pelanggaran HAM

Kondisi rill sementara Jakarta dan Papua sangat darurat, dikarenakan,  banjir di ibukota Negara Indonesia di Jakarta, sedangkan Papua mengalami Gudang Pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM). Hal  ini muncul  karena Pemimpin Elit-elit Daerah maupun Pusat, gagal mengatasinya. Itu sebabnya banyak persoalan bertubi-tubi muncul di kalangan masyarakat Jakarta dan Papua.

 JAKARTA DARURAT KARENA BANJIR
Jakarta merupakan Ibukota Negara Rebublik Indonesia,  Gubernurnya Jokowidodo, sampai saat ini Jakarta  mengalami Banjir, Pada tanggal 17 Januari 2013, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo,  mengumumkan status darurat banjir untuk Jakarta setelah jatuhnya 5 korban jiwa dan 15.447 warga terpaksa mengungsi. Pada saat itu, BNPB mencatat banjir telah menggenangi 500 RT, 203 RW di 44 kelurahan yang tersebar di 25 kecamatan, kemudian Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah resmi korban yang tercatat selama banjir Jakarta 2013, pada tanggal 18 Januari 2013, adalah 12 orang, dengan rincian 5 orang karena disetrum listrik, 2 orang karena kedinginan, 2 orang karena terpeleset atau jatuh, 1 orang karena hanyut, 1 orang karena usia lanjut, dan 1 orang sudah ditemukan meninggal di rumah, di lansir www.kompas.com Sekarang ini 121 titik pengungsian, baik itu yang disediakan oleh pemerintah maupun yang terpaksa ad hoc dilakukan oleh masayarakat. Demikian juga yang dilakukan oleh Basarnas telah melakukan evakuasi lebih dari 400 orang dengan overcraft, boat, rescue car, dan membantu distribusi," paparnya.

PAPUA DARURAT KARENA PELANGGARAN HAM
Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), sumber aktor utama Pelanggaran Ham Papua “Trikora 19 desember 1961, Aneksasi 1 mei 1963, Pepera 1969, Trans Migrasi 1970-an, Otsus, UP4B, Pemekaran”. lahir di Papua sejak Indonesia mulai menginjak kaki pertama melalui Trikomando Rakyat, saat itu Sukarno menumumkan bahwa Segera bubarkan Negara Buatan belanda terhadap Negara West Papua. Di Alun-alun utara Yogyakarta  pada 19 desember 1961. belanjut 1 mei 1963 Hari Aneksai, Belanda serakan Status Politik Ke tangan UNTEA, kemudian Untea serakan Ke Indonesia. Untuk Kepentingan Politk ekonomi salah satunya PT. Freeport Indonesia di Tembagapura.
Dan Pepera 1969 dilakukan versi Indonesia dengan musyawarah seharusnya “One Man One Voice”, satu orang satu suara, tetapi mereka melakukan dengan Cara-cara Indonesia ini terbukti melakukan Pelanggaran Ham. Kemudian dalam Pelaksanaan PEPERA itu, banyak Intimidasi, Teror, terhadap Masyarakat Papua saat itu. Lebih bahaya lagi, mereka Indonesia dengan Kekuatan militer Tentara dan polisi melakukan tekanan demi tekanan terhadap rakyat Papua akhirnya Pepera di menangkan oleh PBB ke Tangan Indonesia. Pada hal rakyat Papua barat saat itu mereka ingin menentukan Nasib sendiri, di saksikan langsung oleh Fernando Ortiz-Sanz. Dia mengakui saat Pelaporan hasil Pepera di Sidang Umum PBB.

Sampai saat ini, Komnas HAM menerima lebih dari 6.000 laporan pelanggaran HAM di Papua sepanjang tahun 2012. Tidak termasuk 1969-2011. Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai. lansir www.kompas.com di Jakarta, Rabu (19/12/2012) lalu, mengatakan, dia menerima lebih dari 4.000 laporan sepanjang Januari-Oktober. "Hingga November-Desember total ada 6.000 lebih laporan yang masuk. Aktivis West Papua merdeka, Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Victor Yeimo mengatakan, 22 aktivis KNPB  dibunuh, 51 masih mendekam di penjara, dan belasan lainnya DPO dengan tuduhan makar. “Selama tahun 2012, 22 anggota KNPB telah dibunuh penjajah, 51 masih mendekam dalam trali besi penjajah. Belasan lainnya DPO dengan tuduhan yang tidak benar,”kata Victor kepada majalahselangkah.com, Senin (01/01) lalu. Kata dia, walaupun Indonesia menerapkan UU terorisme, KNPB tetap komitmen untuk terus menyuarakan apa yang disuarakan selama ini. “Walau Indonesia mulai melegalisasi pembunuhan mereka dengan siasat modern seperti UU Terorisme, KNPB tidak akan gentar,” 

Kemudian Pelangaran Ham lahir karena Otonomi khusus Papua.  Uang Otonomi Khusus (Otsus) Papua adalah uang dari darah orang Papua. Otsus ada karena permintaan orang Papua untuk meminta merdeka. Pernyataan ini dikeluarkan salah satu tokoh Papua dari Merauke, Johannes Wob saat menemui tabloidjubi.com di Abepura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (9/1). Memang benar Otsus dengan UU 21 tahun 2001, Semua Sistim Daerah, kepijakan kembali ke papua tetapi Perakteknya di Kendalikan Oleh Jakarta.  Majelis Rakyat Papua (MRP) di bentuk Untuk mengontrol Semua uang Otsus  tepapi semua di Kontrol oleh Jakarta Pusat. Hasilnya tidak maksimal, otsus Papua sudah gagal mensejahtrakan rakyat, mereka menghasilkan Pelanggaran  Ham di Papua.

Tidak lupa juga  Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) Juga Mengandung pelangaran Ham katanya, lembaga yang dibentuk untuk mendukung koordinasi, memfasilitasi, dan mengendalikan pelaksanaan Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. UP4B dibentuk dengan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2011. UP4B memiliki masa kerja sampai dengan tahun 2014 dan berkedudukan di ibukota Provinsi Papua. UP4B dipimpin oleh seorang Kepala UP4B Bambang Darmono. Itu juga jelas-jelas bahwa Unit Percepatan Pemusnaan orang Papua dan papua barat.

Sejarah Bukti fisik kekerasan aparat keamanan  (Tni-Polri) juga melakukan pelanggaran Ham, khususnya terhadap rakyat Papua Barat telah dimulai sejak Papua Barat Pada Tahun 1963. sekitar pada tahun 2000, ELS-HAM Papua melaporkan korban kekerasan aparat keamanan di sebagai wilayah di Papua Barat. Kabupaten Paniai antara tahun (1968-1998) tercatat meninggal 614, hilang 13, diperkosa 94;  Kabupaten Biak (1962-1972 dan  1998) meninggal 102, hilang 3, dianiaya 37, ditahan 150; Kabupaten Wamena (1977),  Kecamatan Kelila 201 orang tewas,  Kecamatan Asologaima 126 orang tewas, Kecematan Wosi 148 orang tewas; Kabupaten Sorong (1965-1999)  meninggal 60 orang, hilang 5 orang, diperkosa 7 orang; dan Kabupaten Jayawijaya (1996-1998)  meninggal 137 orang, hilang 2 orang, diperkosa 10 orang, diniaya 3 orang, di bakar 13 gereja, 13 kampung, 166 rumah dan 29 rumah bujang serta kabupaten lainnya masih belum terdata dengan baik. Data lain menyebutkan bahwa pada tahun 1969 seorang kepala sekolah perempuan di Sarmi  bernama Ester Yanteo ditelanjangani serta di alat kemaluannya dibakar dengan api rokok. Jemburwo, aparat keamanan  memerkosa para wanita. Aparat keamanan  memasukan pasir ke dalam alat kemaluan para perempuan serta dimasukan ke dalam karung dan kemudian di ceburkan kedalam laut. 

 Tahun 1968, 162 orang penduduk Arfak tewas di bunuh aparat keamanan , 28 penggunsi yang sedang berusaha kembali dibunuh oleh aparat keamanan. Tahun 1970 sebelum perlakuan buruk terhadap 80 wanita dan anak-ank terjadi seorang wanita yang sedang hamil bernama, Maria Bonspia, di tembak mati oleh aparat keamanan dan bayinya dikeluarkan dari perutnya dan  dipotong. Saudara perempuan wanita itu diperkosa dan dibunuh oleh sekelompok aparat keamanan  Indonesia. Rakyat Papua selanjutnya mendengatar tentang adanya pembantaian 500 penduduk desa di daerah Lereh.  Pada tahun 1970, sejumlah pemimpin desa ditangkap dan dimasukan dalam helihkopter. Mereka belum pernah naik pesawat dan sangat ketakutan. Helicopter-helikopter tersebut lepas landas dan terbang melintasi perbukitan setempat dan mereka dibuang dari ketinggian 300 meter hingga mati tulang belulang.  Pada tahun 1977, pihak aparat keamanan  Indonesia menindas secara keras setiap bentuk perlawanan masyarakat. Seorang wartawam Australia ketika memasuki suatu daerah  diberitahu oleh seorang pegawai pemerintah bahwa 900 warga yang melawan telah di bunuh oleh aparat keamanan. KOMPAS sebuah harian terkemuka di Jakarta, memberitakan bahwa sungai Baliem dipenuhi oleh jasat manusia.  Pada tahun 1981, 30.000 lebih orang di bunuh di tanah Papua. Ketua  Presidium  Dewan  Papua  (PDP)  Theys  Hiyo  Eluay  hari  Sabtu,  10  November  2001 diculik. Esok harinya, ia ditemukan telah tewas di  Koya  tengah,  Kecamatan  Muara  Tami,  Kabupaten    Jayapura.  Jenazah  Theys  ditemukan  tertelungkup  di  jok   mobil Toyota Kijang dengan wajah babak belur dan luka di pelipis, dahi, dan leher (2001),  Data-data kekerasan aparat keamanan  Indonesia (2000-2006) belum terdata dengan baik.

Hingga pada kasus   penembakan aparat militer dan kepolisian terhadap penambangan emas tradisional di sekitar areal PT Freeport Indonesia pada Kamis, 24 Mei 2007 pukul 17.00 waktu Papua Barat. Empat orang tertembak mati adalah (1) Daro Tabuni, (2) Head Tinal, (3) Stefanus Songgonau, dan (4) Anton Jikwa. Sementara itu,  tiga orang yang masuk rumah sakit belum teridentifikasi identitasnya. Wamena Kasus penembakan terhadap Opinus Tabuni 9 Agustus 2008.  Jayapura    kasus Penembakan Mahasiswa  Menjelang Pemilu 2009  Erik Logo (paha dan bagian perut/meninggal dunia, F. Mabel (meninggal dunia) dan  tiga orang lainnya Luka-luka berat. PuncakJaya, Video kekerasan Penyiksaan Warga Sipil Puncak Jaya  rekaman situs Youtube adalah aknum Anggota Tentara (22/10) Jakarta (voa-islam.com) korban  tersebut  sudah meninggal Komnas Ham di Papua (12/10).

Kabupaten Dogiyai (13 April 2011) Polisi mengeluarkan tembakan yang ditujuakan kepada rakyat sipil hasil dua warga sipil masing-masing Dominikus Auwe (27) dan Aloysius Waine (25) tewas terkena proyektil. Akibat tindakan brutal aparat kepolisian tersebut, menelan korban seorang buruh yang tertembak dibagian dada kirinya hingga meninggal dan melukai 2 orang buruh yang terkena peluru karet di bagian punggung serta 2 orang lainnya terluka dibagian kepala akibat pukulan, serta korban lainnya yang juga mengalami luka. Jayapura penembakan brutal  Konggres Papua  III 19 Oktober  2011 Korban tewas: 1.James Gobay (25), 2. Yosaphat Yogi (28). 3.Daniel Kadepa (25). 4. Maxsasa Yewi (35). 5.Yacob Samonsabra (53). 6.Pilatus Wetipo (40). Korban luka : 1.Ana Adi (40). 2.Miler Hubi (22). 3. Matias Maidepa ( 25).  Diperkirakan sekitar 380 orang ditangkap (360 orang berdasarkan pengakuan Kapolresta kepada tim Kontra pada 25 Oktober). Penangkapan dilakukan oleh anggota polisi didalam lapangan sepak bola Zakeus Jayapura Papua (2011). 

Degeuwo, penembakan yang berdasarkan data awal dikabarkan telah menewaskan 8 orang warga sipil. 8 warga Paniai ditemukan tewas di kawasan tambang Degeuwo. Mereka ditembak polisi pada 13 November 2012 lalu. Menurutnya, berdasar kejadian sebelum bahwa polisi kerapkali membekingi pemilik perusahaan dan para pengusaha asal luar Papua. Sementara warga setempat yang tewas karena mencoba mempertahankan tanahnya dari aktivitas pendulangan emas. Salah satu korban adalah Matias Tenouye (30), warga yang tertembak di Bayabiru oleh Oknum Brimob.

 Paniai,  Data terbaru TPN-OPM menyebutkan, enam orang juga terluka terkena peluru tajam. “Penembakan saat itu membabi buta. TNI-POLRI diserang dari helikopter, juga dari darat. ABRI masuk dan menembak siapa saja yang ada di depan,” kata Leo Yeimo, juru bicara Tentara Pertahanan Nasional Organisasi Papua Merdeka Divisi II Makodam Pemka IV Paniai, Kamis, 15 Desember 2011. (Media: Tabloidjubi, Papuapos) Korban meninggal menurut versi TPN-OPM, yakni Tapupai Gobay, 30 tahun, terkena tembakan di dada; Tawe Awe Bonai (30), kepala hancur; Uwi Gobay (35), tertembak di perut; Wate Nawipa (25), tertembak di bagian punggung; Martinus Gobay (29), kepala hancur; Owdei Yeimo (35), terkena di punggung; Ruben Gobay (25), tertembak di perut; Paulus Gobay (42), tertembak di perut; dan Bernadus Yogi (23) tertembak di dada, Selain itu, Damianus Yogi (15), tertembak di punggung; Simon Kogoya (40), tertembak di perut; Simon Yogi (30), tertembak di kepala; Lukas Kudiai (25), tertembak di dada; dan Alfius Magai (20), kepala hancur. Sementara korban luka, yakni Paskalis Kudiai (15), terserempet peluru di bagian kepala; Martinus Kudiai (30) tertembak di tangan; Daud Mote (40), tertembak di paha; Amandus Kudiay (43), terluka di lengan; Yohan Yogi (21) di bagian kaki; dan Mon Yogi (20) tertembak di punggung . (Vivanews, inilah.com, Bintangpapua.com) Puncakjaya, wartawan Papua Pos Nabire grup surat kabar harian Pasifik Post, Leiron Kogoya yang tertembak di leher di Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Minggu (8/4). Aparat Militer tidak perungkap siapa pelakunya belum berasil tangkap pelakunya. (Papuapos.com)

Jayapura, Selasa, 1 Mei 2012 ketika ribuan buruh berdemonstrasi menuntut kesejahteraan di berbagai kota,  ada sekelompok aktivis pro Papua merdeka di Tanah Papua  memanfaatkannya untuk  berdemonstrasi menuding Indonesia telah menduduki Tanah Papua secara ilegal melalui referendum (PEPERA tahun 1969) yang dinilainya penuh rekayasa. Dua media online lokal Papua (tabloidjubi.com dan suarapapua.com) memberitakan, seorang mahasiswa STIE Port Numbay bernama Thei Karoba (26 tahun) tertembak di perut saat pulang demo 1 Mei  bersama kelompok massa yang digerakan oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pimpinan Mako Tabuni dan Buchtar Tabuni itu.  Korban sudah meninggal dunia dan sejak tadi malam pukul 22.00 WIT jenazahnya sudah di bawa ke Asrama (mahasiswa) Tolikara, tempat tinggal korban selama ini.

Menurut saksi korban, Mako Tabuni  (ketua I KNPB) yang adalah pemimpin demo itu sendiri,    saat penembakan terjadi, korban sedang berada di atas truck yang mengangkut massa pendemo pulang.  Tembakan datang dari arah depan oleh orang tak dikenal.  Lokasi penembakan persis antara Kampus Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ) dengan Markas Korem di Padang Bulan,  Abepura. Saya coba membaca secara jeli kronologi peristiwa penembakan tersebut, dengan menggunakan dua sumber berita media online loka tadi. Saya menemukan beberapa kejangggalan.  (suarapapua.com). Dalam kasus penembakan di Papua, kepolisian dianggap tak pernah mengumumkan siapa pelaku sebenarnya. Nabire, Dua orang warga sipil, Selvina Muyapa dan Melianus Nawipa dipukul oleh aparat Kepolisian Resort  Nabire, ketika terlibat dalam aksi demo menolak kehadiran Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono bersama rombongan Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) di Kabupaten Nabire, Papua, Kamis (10/05/2012). 

“Kedua orang itu dapat pukul dari aparat kepolisian saat demo tolak kedatangan Bambang Darmono dan team UP4B dari Jakarta,” kata Yones Douw, salah satu kordinator aksi. Menurut Yones, saat terjadi pembicaraan antara aparat kepolisian dengan massa aksi, sempat terjadi keributan kecil akibat kesalahpahaman, sehingga terjadi benturan fisik yang dilakukan oleh aparat kepolisian. (umaginews.com, Tabloidjubi.com) Yapen Serui, Pembakaran Rumah warga dan Penangkapan Aktivis Papua Merdeka (29 Mei 2012)oleh oknum  aparat Militer (Tni-Polri) dalam Operasinya di kampung Wanampompi Kecamatan Angkaisera, Pihak Penegak dan pelindung rakyat ini melakukan tindakan pembakaran rumah warga dan menyita 2 buah bendera Bintang Kejora, 2 Parang, 1 Senjata angin milik warga.Selain mengambil barang barang tersebut, Pihak TNI/Polisi juga menangkap 1 orang warga masyarakat yang menurut Polisi /TNI adalah TPN/OPM bernama (Tn. John Nuntian). Setelah menangkap Tn.Jhon Nuntin dan Barang barang tersebut Pihak TNI/Polisi membawanya ke Mabes Polresta. (Tabloidjubi.com vivanews.com) 

Degeiwo Paniai, "Kasus Tertembaknya 5 warga sipil di Degeuwo, 15 Mey 2012" pada jam 18.30, di tempat bilyard milik Ibu Yona datang beberapa orang Pemuda asal Suku Wolani, yaitu; Selvius Kegepe (19Th), Lukas Kegepe (18 Th), Amos Abaa (17 th), Markus Abaa (16 Th), Obeth Kegepe (30 Th), Habel, mereka ini datang dari Lokasi 81 (Tempat kerja mereka, karena mereka karyawan disana) setelah mereka bekerja, ada diantara mereka ingin bermain bilyard ada juga yang sekedar menonton saja, setelah kami tiba di tempat bilyard, saat itu kami lihat tidak ada orang bermain bilyard dan meja bilyard tertutup oleh karpet, (tidak seperti yang diberitakan bahwa ada orang sedang bermain) karena sudah akrab dengan ibu yona. Korban di areal pertambangan Ilegai Menurut  Kepala Suku Matias Nagapa, bahwa pada Rabu (15/05) sekitar pkl 17.00 WIT telah terjadi konflik antara anggota Brimob dengan masyarakat di Lokasi 45 dan Lokasi 99 . Sesuai data yang diterima Ketua LPMA Swamemo, Thobias Bagubau, bahwa dalam keributan tersebut timbul korban 1 orang meninggal dunia atas nama Melianus Abaa (40), akibat luka tembak di dada tembus belakang. Selain itu juga mengakibatkan dua korban luka, yaitu Lukas Gegepe (30), luka tembak di perut, dan sedang dalam perawatan, dan satu korban lagi atas nama Amos Gegepe (30), yang menderita luka tembak di kaki.(Bintangpapua.com, vivanews.com. suarapapua.com)

Jayapura, Penembakan terhadap warga negara Jerman terjadi di pantai wisata BASE’G Jayapura. Warga Negara Jerman tersebut bernama (Pieter Dietmar Helmut). Pieter diberondong dengan senjata api dan peluru dari jarak 10 meter saat korban bersama isterinya, Medina Pachon, sedang menikmati liburan di lokasi wisata pantai tersebut.Akibat penembakan ini Peluru menembus paha dan dada warga Jerman. Penembakan oknum Aparat Militer (Tni-Polri)  tersebut terjadi pada (29/05/2012). (metrotvnews.com, Suarapapua.com, tabloidjubi.com) Jayapura Senin tanggal (4 Juli 2012),saat KNPB-Komite Nasional Papua Barat yang melakukan aksi damai untuk menyikapi kekerasan dan Penembakan yang kerap terjadi di Seluruh ditanah Papua dan belum semuanya di ungkap oleh Polisi, Aparat gabungan (Tni- Polri) di bawah pimpinan Wakapolda Papua Paulus Waterpauw, menghadang masa aksi di Waena,Abepura agar tidak melakukan aksi damai tersebut.

Melihat itu KNPB melakukan pembicaraan dengan pihak keamanan dan keamanan menolaknya dengan cara membabi buta dan menembak mati dua orang Sipil Orang Asli Papua (OAP) yakni,  (Vanuel Taplo) dan (Jeck Mirin) yang berasal dari distrik Kiwirok dan Eipumek Kabupaten Pegunungan Bintang. Sedangkan Tanius Kalakmabin yang berasal dari Distrik Kiwirok Pegunungan Bintang juga sedang dalam keadaan kritis. Sementara ratusan orang luka-luka karena terjatuh dan juga kena pukulan aparat Polisi dan TNI.Paulus Waterpauw adalah seorang yang pernah memimpin juga dalam kasus Abepura berdarah. Fakta dan nyata Kekejaman dan Kekerasan Penindasan Militer (Tni-Polri) serta Sistim Negara Indonesia  Sejak Rezim (Suharta) masa orde lama dengan Sistimnya, Papua di jadikan sebagai Daerah Operasi Militer (Dom) dan Transmirasi besar-besaan. hingga masa orde baru Rezim (Susilo B. Yudoyono) diterapkan sistim “Militerisasi” Organik maupun Non organik, pada prinsipnya  Pemusnaan Etnis Malanesia Khususnya Orang Asli Papua (OAP) di Papua Barat.


Mypapua


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

0 SILAKAN BERKOMENTAR :

silakan komentar anda!

Translate

Followers

NEWS