Monday, October 31, 2011

Mahasiswa Papua tergabung dalam solidaritas untuk Papua (Sup) di Yogyakarta Kecam Pelanggaran HAM Papua sejak 1963-2011

WEST PAPUA     12:00 PM   No comments

YOGYA (Umagi-Papua) - Puluhan massa yang tergabung dalam "FNM,IB, PEMBEBASAN, MAHARDIKA,  AMP, IPR, DEWA UGM, MAHASWARA" Solidaritas Untuk Papua (SUP) melakukan aksi long march dari parkir Abu Bakar Ali, kantor DPRD DIY, komplek Kepatihan hingga kawasan titik nol Yogyakarta, Senin (30/10).  Mengecam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh oknum TNI/Polri di tanah Papua dan menimbulkan Jutaan korban jiwa Tidak berdoasa di Tanah Papua Barat.
Koordinator umum aksi, Lexi Degei menilai, beroperasinya perusahaan-perusahaan besar di Papua seperti Freeport, tetap mengambil peran atas terjadinya pelanggaran HAM. Bahkan tuntutan masyarakat atas perlakuan tidak adil dijawab dengan kehadiran aparat keamanan melalui pendekatan militeristik yang tidak mencerminkan Negara Indonesia sebagai Negara berhukum.
"Seperti yang dilakukan aparat TNI/Polri terhadap pemogokan buruh PT Freeport yang menelan korban. Sikap yang dimunculkan aparat tersebut jelas tidak mencerminkan Indonesia sebagai negara hukum tetapi justru menggunakan pendekatan kekerasan," ujarnya.
Kekerasan dan tindakan pelanggaran HAM ini, lanjutnya, dianggap telah menyakiti hati rakyat Papua sebagai Manusia Ciptaan MAhakuasa. Karena hanya demi investasi asing dan demi Freeport, aparat TNI/Polri dengan kejam membunuh rakyat Papua. Hal ini juga semakin membuktikan bahwa watak rezim SBY-Boediono merupakan anti demokrasi dan anti terhadap HAM.

Cerita tentang korban kekerasan aparat keamanan terhadap warga sipil di negara ini cukup banyak. Bahkan tak terhitung jumlahnya dan tak terdata dengan baik. Setiap daerah di Indonesia pasti ada cerita penyiksaan aparat keamanan  yang sungguh tidak manusiawi. Aparat keamanan  yang katanya pengayom dan pelindung rakyat, justru menjadi penyiksa, pemerkosa dan pembunuh rakyat. Militer bukan lagi Tentara Rakyat. Dari sisi militer, dwifunsi ABRI hanya memberikan legitimasi kepada TNI untuk berpolitik dan menjarah seluruh ruang-ruang kehidupan sipil.
            Selain itu, akibat dari dwifunsi itu melahirkan penderitaan dan kesengsaraan bagi rakyat. Kita kenal banyak orang mati dibantai dalam peristiwa G30-S/PKI, Aceh, Tanjung Priok, Lampung, Maluku Pencaplokan Timor-Timur dan Papua Barat.  Banyak orang telah menjadi korban penculikan, penyiksaan, penghilangan paksa, pemenjaraan, dan juga perempuan-perempuan menjadi korban perkosaan. Para petani digusur tanahnya dan mereka mengalami ancaman teror dan intimidasi oleh aparat keamanan.
      Sejarah kekerasan aparat keamanan  khususnya terhadap rakyat Papua Barat telah dimulai sejak Papua Barat diintegrasikan secara paksa ke dalam Indonesia Pada Tahun 1963. sekitar pada tahun 2000, ELS-HAM Papua melaporkan korban kekerasan aparat keamanan di sebagai wilayah di Papua Barat. Kabupaten Paniai antara tahun (1968-1998) tercatat meninggal 614, hilang 13, diperkosa 94;  Kabupaten Biak (1962-1972 dan  1998) meninggal 102, hilang 3, dianiaya 37, ditahan 150; Kabupaten Wamena (1977),  Kecamatan Kelila 201 orang tewas,  Kecamatan Asologaima 126 orang tewas, Kecematan Wosi 148 orang tewas; Kabupaten Sorong (1965-1999)  meninggal 60 orang, hilang 5 orang, diperkosa 7 orang; dan Kabupaten Jayawijaya (1996-1998)  meninggal 137 orang, hilang 2 orang, diperkosa 10 orang, diniaya 3 orang, di bakar 13 gereja, 13 kampung, 166 rumah dan 29 rumah bujang serta kabupaten lainnya masih belum terdata dengan baik.
            Data lain menyebutkan bahwa pada tahun 1969 seorang kepala sekolah perempuan di Sarmi  bernama Ester Yanteo ditelanjangani serta di alat kemaluannya dibakar dengan api rokok. Jemburwo, aparat keamanan  memerkosa para wanita. Aparat keamanan  memasukan pasir ke dalam alat kemaluan para perempuan serta dimasukan ke dalam karung dan kemudian di ceburkan kedalam laut. 
            Tahun 1968, 162 orang penduduk Arfak tewas di bunuh aparat keamanan , 28 penggunsi yang sedang berusaha kembali dibunuh oleh aparat keamanan. Tahun 1970 sebelum perlakuan buruk terhadap 80 wanita dan anak-ank terjadi seorang wanita yang sedang hamil bernama, Maria Bonspia, di tembak mati oleh aparat keamanan dan bayinya dikeluarkan dari perutnya dan dipotong. Saudara perempuan wanita itu diperkosa dan dibunuh oleh sekelompok aparat keamanan  Indonesia.
            Rakyat Papua selanjutnya mendengatar tentang adanya pembantaian 500 penduduk desa di daerah Lereh.  Pada tahun 1970, sejumlah pemimpin desa ditangkap dan dimasukan dalam helihkopter. Mereka belum pernah naik pesawat dan sangat ketakutan. Helicopter-helikopter tersebut lepas landas dan terbang melintasi perbukitan setempat dan mereka dibuang dari ketinggian 300 meter hingga mati tulang belulang.  Pada tahun 1977, pihak aparat keamanan  Indonesia menindas secara keras setiap bentuk perlawanan masyarakat. Seorang wartawam Australia ketika memasuki suatu daerah  diberitahu oleh seorang pegawai pemerintah bahwa 900 warga yang melawan telah di bunuh oleh aparat keamanan. KOMPAS sebuah harian terkemuka di Jakarta, memberitakan bahwa sungai Baliem dipenuhi oleh jasat manusia.  Pada tahun 1981, 30.000 lebih orang di bunuh di tanah Papua.  Ketua  Presidium  Dewan  Papua  (PDP)  Theys  Hiyo  Eluay  hari  Sabtu,  10  November  2001 diculik. Esok harinya, ia ditemukan telah tewas di  Koya  tengah, Kecamatan  Muara  Tami,  Kabupaten    Jayapura.  Jenazah  Theys  ditemukan  tertelungkup  di  jok   mobil Toyota Kijang dengan wajah babak belur dan luka di pelipis, dahi, dan leher (2001),  Data-data kekerasan aparat keamanan  Indonesia (2000-2006) belum terdata dengan baik.
            Hingga pada kasus   penembakan aparat militer dan kepolisian terhadap penambangan emas tradisional di sekitar areal PT Freeport Indonesia pada Kamis, 24 Mei 2007 pukul 17.00 waktu Papua Barat.  Empat orang tertembak mati adalah (1) Daro Tabuni, (2) Head Tinal, (3) Stefanus Songgonau, dan (4) Anton Jikwa. Sementara itu,  tiga orang yang masuk rumah sakit belum teridentifikasi identitasnya. Wamena Kasus penembakan terhadap Opinus Tabuni 9 Agustus 2008.  Jayapura    kasus Penembakan Mahasiswa  Menjelang Pemilu 2009  Erik Logo (paha dan bagian perut/meninggal dunia, F. Mabel (meninggal dunia).
Video kekerasan Penyiksaan Warga Sipil Puncak Jaya  rekaman situs Youtube adalah aknum Anggota Tentara (22/10) Jakarta (voa-islam.com) korban  tersebut  sudah meninggal Komnas Ham di Papua (12/10).
Kabupaten Dogiyai (13 April 2011) Polisi mengeluarkan tembakan yang ditujuakan kepada rakyat sipil hasil dua warga sipil masing-masing Dominikus Auwe (27) dan Aloysius Waine (25) tewas terkena proyektil.
Akibat tindakan brutal aparat kepolisian tersebut, menelan korban seorang buruh yang tertembak dibagian dada kirinya hingga meninggal dan melukai 2 orang buruh yang terkena peluru karet di bagian punggung serta 2 orang lainnya terluka dibagian kepala akibat pukulan, serta korban lainnya yang juga mengalami luka.
Jayapura penembakan brutal  Konggres Papua  III 19 Oktober Korban tewas: 1.James Gobay (25), 2. Yosaphat Yogi (28). 3.Daniel Kadepa (25). 4. Maxsasa Yewi (35). 5.Yacob Samonsabra (53). 6.Pilatus Wetipo (40). Korban luka : 1.Ana Adi (40). 2.Miler Hubi (22). 3.Matias Maidepa ( 25).  Diperkirakan sekitar 380 orang ditangkap (360 orang berdasarkan pengakuan Kapolresta kepada tim Kontra pada 25 Oktober). Penangkapan dilakukan oleh anggota polisi didalam lapangan sepak bola Zakeus Jayapura Papua (2011).

 "Karena itu kami menuntut tarik militer dari Papua, hentikan pelanggaran HAM di Papua dan usut tuntas pelanggaran HAM di Papua. Kami juga meminta agar SBY-Boediono bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang terjadi serta lakukan penutupan terhadap PT Freeport yang menjadi biang keladi pelanggaran HAM di Papua, . dan memberikan ruang demokrasi seluas-luasnya bagi rakyat Papua Barat" tandasnya.(UMAG!)





















WEST PAPUA


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

0 SILAKAN BERKOMENTAR :

silakan komentar anda!

Google+ Followers

Translate

Followers

NEWS

VideoBar

This content is not yet available over encrypted connections.

VideoBar

This content is not yet available over encrypted connections.

VideoBar

This content is not yet available over encrypted connections.

VideoBar

This content is not yet available over encrypted connections.