Saturday, December 3, 2011

PIDATO POLITIK KOLONEL OLIVA GOBAY

WEST PAPUA     7:06 AM  

PIDATO POLITIK KOLONEL OLIVA GOBAY

 01 DESEMBER 2010, TEPAT JAM 11:10 WPB

EDUDA - MABES TPN-OPM PANIAI, WEST PAPUA


Pos Pertahanan TPN-OPM Hati Jantung Sang Bintang Kejora

Seluruh Rakyat dari bangsa Papua Barat telah lama mengusir penjajah NKRI dari tanah Papua sejak tahun 1960-an. Oleh karena itu NKRI telah mulai melakukan Genocida di tanah Papua melalui berbagai cara dan sistematis. Kami rakyat Papua sudah sedang berada pada sasaran korban yang kita tinggal tunggu waktu untuk meninggal satu demi satu dari tanah Papua.






Melalui pertimbangan demikian, kita telah berhasil membangun berbagai pos-pos pertahanan sebagai basis saya militer TPN-OPM se-tanah Papua Barat untuk merangkul rakyat dan meyakinkan Masalah Perjuangan Politik Rakyat Papua Barat kehadapan masyarakat international. Kami pihak TPN-OPM Paniai telah lama mengutamakan perjuangan Kemerdekaan Papua Barat dengan cara damai untuk selamatkan perjuangan kita yang sangat lama ini. Selanjutnya, setelah berulangkali menghadapi kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilakukan oleh aparat bersenjata di Papua. John Rumbiak dan kawan-kawannya mulai memperjuangkan “Zona Damai” di Tanah Papua. Itu berarti, kedua belah pihak, yakni sayap militer gerakan kemerdekaan Papua Barat dan angkatan bersenjata Indonesia, perlu sama-sama menyepakati untuk mengurangi konflik bersenjata di antara kita. Dengan susah payah, Panglima TPN-OPM, Thadius Yogi mau menerima gagasan itu dalam pertemuan di Paniai, 14-15 Agustus 2002. Dari pihak angkatan bersenjata Indonesia, gagasan itu disetujui oleh Kapolda Papua waktu itu, Irjen (Pol) Made Pastika, yang juga mau bekerjasama dengan ELSHAM untuk mengusut penembakan terhadap serombongan guru Sekolah International Freeport, 31 Agustus 2002. Selain itu, kerjasama dengan ELSHAM, sang Kapolda memprakarsai sebuah Seminar Nasional di Jayapura, di bulan November 2002, untuk menentukan langkah-langkah guna mewujudkan “Zona Damai”. Namun ledakan bom Bali pertama, 12 Oktober 2002 menggugurkan gagasan mulia ini. Sayangnya, Kapolda Papua penggantinya, Irjeb (Pol) Tommy Jacobus, dan Kapolda-Kapolda Papua sesudahnya, mengubur hidup-hidup gagasan zona damai itu.

Namanya perjuangan politik, pasti saja ada pengorbanannya. Hasil pemberlakuan zona damai di tanah Papua masalah diplomasi Papua berjalan sesuai keinginan kami rakyat Papua, baik di dalam negeri maupun luar negeri seperti perjuangan diplomasi telah/sedang dibangun oleh beliau Octovianus Mote di Amerika Serikat, beliau Benny Wenda dkk di Inggris, Andy Ajamiseba, Yanus Bukopioper, dan John Ondoame di Vanuatu, Moses Weror di PNG dkk, Oridek AP dkk di Belanda, Herman Wainggai dkk di Australia dan lain-lain. Tidak ketinggalan pula bagi kita para pelaku perjuangan yang sedang mempertahankan gengsi perlawanan TPN-OPM di tanah Papua melawan kekuatan TNI/POLRI untuk mendapatkan kebebasan saling mengunjungi antar KODAP mempersatukaan persepsi perjuangan mengussir penjajah NKRI dari Papua.  

Karena masalah perjuangan politik kita telah memilih dengan cara damai tanpa pengurangi prinsip dan tujuan perjuangan rakyat bersama sayap militer TPN-OPM untuk lepaskan Papua dari NKRI, maka kitapun sedang merasakan hasilnya yaitu kita sedang melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Negara Papua Barat 01 Desember 2010 sebaggai Hari Lahirnya Bangsa Papua Barat Ras Melanesia Bersama Bendera Bintang Kejora dan Atribut Kenegaraan lainnya di Eduda, Paniai West Papua dalam keadaan yang aman. Seluruh rakyat Papua Barat se-tanah Papua tidak begitu aman sempat melakukan upacara pengibaran Bendera Sang Bintang Kejora seperti kita di Paniai. Kita tetap doakan mereka di Kodap-Kodap TPN-OPM lain di Tanah Papua mengingat pengaman pihak TNI/POLRI yang dinilai sangat ketat mengawasi kegiatan upacara 01 Desember 2010 sebagai hari bersejarah ini dapat dirayakkan.

Seluruh wilayah di tanah air Papua Barat dijaga ketat oleh TNI/POLRI kecuali kita di Eduda Markas Besar TPN-OPM Dev. II Makodam PEMKA IV Paniai yang bebas melaksanakan Upacara Bendera memperingati hari lahirnya Bangsa Papua Bersama Bendera Sang Bintang Kejora dan atribut kenegaraan Bangsa Papua seperti lagu Hai TanahKu Papua, Burung Mambruk sebagai lambang negara, dan lain-lain.

Saya atas nama Panglima TPN-OPM mewakili Pangdev II Makodam Pemka IV Paniai dengan sangat meminta kepada seluruh jajaran TPN-OPM Dev. II Makodam Pemka IV Paniai adalah sebagai berikut :

1.                   MEWASPADAI TERHADAP SETIAP ANCAMAN YANG AKAN MASUK MELAKUKAN PEMBUSUKAN SISTEM PERJUANGAN PAPUA MERDEKA.

-         Kita harus waspada terhadap Ancaman dari dalam tubuh Organisasi TPN-OPM, baik yang bisa berkembang dari issue keluarga, kampong, seksi, Pleton, Kompi, Batalyon

-         Kita harus waspada terhadap Ancaman dari luar seperti keadatangan para tamu yang akan masuk ke Mabes mempengaruhi system baru untuk merusak sistem perjuangan kita yang sudah lama terbangun di tubuh organisasi TPN-OPM Dev II Makodam Pemka IV Paniai.

-         Kita tidak akan mendukung/memberikan Rekomendasi kepada setiap permohonan yang akan disampaikan oleh pribadi maupun organisasi apapun berdasarkan VISI dan MISI perjuangan Organisasi Induk TPN-OPM yang sifatnya akan merusak system perjuangan TPN-OPM dan merugikan hak dan kewajiban orang lain yang seharusnya tidak boleh dilakukan.

-         Kita harus dan mampu membedakan “Musuh Utama Kita” di Tanah Papua adalah NKRI.

-         Kita tidak akan mendukung setiap aktivitas yang akan mengarah pada perlawanan antar Epa, Fam dan Suku Asli Papua di Tanah Papaua tanpa kecuali. Karena cara-cara demikian bisa dipakai oleh kelompok yang pro NKRI untuk menghambat perjuangan rakyat untuk mencapai Kemerdekaannya.

-         Kita sebagai anggota prajurit TPN-OPM di lapangan selalu siap bertempur apabila ada perintah operasi dari Panglima Dev II Makodam Pemka IV Paniai tanpa syarat.

-          

2.                 MEMBUANG RASA KECIL HATI YANG ADA DI DALAM DIRI KITA DAN SEGERA AKAN MENGGALANG PERSATUAN DAN KESATUAN ANTARA PARA PEJUANG.

-         Kita segera membuang perasaan di dalam hati masing-masing para pejuang bahwa perjuangan kita sudah capai, bingung, gagal dan takut mengalami pengorbanan dalam menjalankan perjuangan panjang untuk segera akan mengakirinya.

-         Kita segera akan membuang perasaan KECIL HATI karena masuknya isu-isu yang menyesatkan dalam perjuangan seperti kapan Papua Mau Merdeka, Kamu Punya Uang Itu Dimana, Kamu punya Senjata, kamu akan ditangkap, ditembak dan lain-lain.

3.                 MEMPERTAHANKAN GENSI PERJUANGAN PAPUA MERDEKA.

Kita semu harus punya prinsip yang kuat untuk mempertahankan gengsi  perjuangan sampai mencapai Kemerdekaan Bangsa Papua.

4.                MEMBUKA HUBUNGAN KERJASAMA DENGAN KODAP-KODAP TPN-OPM LAIN DI TANAH PAPUA BARAT.

Kita segera akan membuka kembali hubungan kerjasama antara Kodap-Kodap TPN-OPM di Tanah Papua untuk mempererat tali perjuangan bersama rakyat.

5.                 KITA AKAN MELAKUKAN KOORDINASI POLITIK YANG BAIK TERHADAP FAKSI-FAKSI PERJUANGAN LAIN UNTUK MENGGALANG PERSAUDARAAN.

Kita juga akan kirimkan perwakilan dari Dev. II Makodam Pemka IV Paniai untuk bergabung dalam berbagai kegiatan politik yang akan dilakukan bersama antara sesame Faksi yang akan dilakukan di kota seperti Jayapura dan lain-lain.

6.                KITA AKAN UTAMAKAN DIPLOMASI LUAR NEGERI

KAMI TIDAK MEMBEDAKAN PARA DIPLOMATOR, BAIK ORANG GUNUNG MAUPUN ORANG PANTAI dalam upaya membangun diplomasi Papua Barat.  Kita segera akan satukan barisan dan bangkitkan semangat perjuangan politik Papua Merdeka dari dalam negeri untuk mendukung para Pejuang Papua Merdeka yang telah, sedang dan akan menjalankan perjuangan diplomasi politik di luar negeri seperti saudara Octovianus Mote dkk di Amerika Serikat, Saudara Benny Wenda dkk di London, Saudara Andy Ayamiseba, Sauadara John Ondoame dkk di Vanuatu, Saudara Oridek AP dkk di Belanda, Saudari Paula Makabory, Saudari Johana Rumere, Saudara Hengki Rumbewas, Saudara Herman Waainggai, Saudara Rex Rumakiek dkk di Australia dan lain-lain untuk mempercepat proses penyelesaian Masalah Krisis Politik Papua pada kesempatan pertama.

Pernyataan Sumpah Kolonel John Yogi:

Akhir dari upacara ini, Kolonel John Yogi Komandan Pengawal Panglima Dev. II Makodam Pemka IV Paniai menyampaikan kepada seluruh peserta upacara yang hadir di Mabes Eduda bahwa saya tidak pernah menerima uang apapun dari NKRI, baik melalui TNI/POLRI, BIN, BAIS, Inteligen maupun Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Paniai. Saya adalah anak darah Pejuang Papua Merdeka yang lahir besar di medan pertempuran untuk mempertahankan Roda Revolusi Pergerakan Kemerdekaan Bangsa Papua Barat. Dengan sesungguh-sungguhnya, saya bersumpah kepada Tuhan Allah (Ugatame) di hadapan saksi seluruh peserta upacara Bendera Bintang Kejora yang hadir di Eduda serta Langit dan Bumi. Saudara-saudara yang akan coba pergi cek bukti penerimaan uang dari NKRI, semuanya itu pasti ada bukti tanda terimanya sebagai pegangan pemberi. Saya hanya sangat membutuhkan dukungan kerjasama dari semua pihak untuk mempercepat proses penyelesaian masalah Papua Merdeka. Dulu, hanya orang-orang tua saja sudah/masih kuat mempertahankan perjuangan politik ini. Mengapa kita sebagai generasi muda asal Paniai ini tidak bisa melawana kekuatan TNI/POLRI?

John Yogi telah menolak dengan tegas atas permintaan perang yang disampaikan oleh Hans Gobay dan Habel Nawipaa di Eduda Mabes TPN-OPM Paniai. Habel Nawipa adalah, aktor yang membakar Kantor YLSM Pegunungan Tengah Papua Barat Kabupaten Paniai di  Komopa tertanggal 19 Juni 2008 (katanya mereka adalah utusan dari KNPB). Mereka sangat memaksa pihak TPN-OPM Paniai melakukan perang terhadap Militer Indonesia. Tetapi Saya John tidak kenal saudara yang namanya Habel Nawipa, saudara baru saja masuk ke Eduda, Mabes TPN-OPM Paniai. Sampai saat ini kamu punya kegiatan tidak jelas. Saya minta dengan sangat, saudara-saudara tidak boleh bawa-bawa masalah pribadi, keluarga dan kampung ke Mabes TPN-OPM Paniai di Eduda.  

Tugas kami yang paling utama adalah melakukan perlawanan terhadap TNI/POLRI apabila mereka menjalankan operasi tumpas terhadap kami rakyat Papua dan TPN-OPM. Sepanjang NKRI tidak memberlakukan DOM, kami tetap akan mendukung upaya-upaya perjuangan Damai yang dilakukan rakyat melalui FORDEM atau sederajatnya untuk mengusir penjajah NKRI dari Papua. Selain itu, kami juga sangat mendukung setiap perjuangan yang dilakukan oleh para diplomat Papua Merdeka yang sedang berjuang di luar negeri dan dalam negeri  sambil tunggu perintah pimpinan TPN-OPM Dev. II Makodam Pemka IV Paniai untuk menjalankan operasi perlawanan terhadap TNI-POLRI.

Kami sayap militer TPN-OPM Dev. II Makodam Pemka IV Paniai akan menjalankan tugas operasional lapangan melawan kekuatan TNI/POLRI setelah ada persetujuan dari Rakat Papua Barat di Paniai selaku pemegang kadaulatan untuk menentukan nasibnya sendiri yang telah dianeksasikan oleh Pemerintah Amerika Serikat, Belanda, Indonesia dan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Perjanjian New York 15 Agustus 1962 untuk melaksanakan PEPERA 1969 yang telah dinyatakan Cacat Hukum.

Demikian Pidato ini saya sampaikan kepada para hadirin sekalian dan atas perhatian serta kerjasamanya disampaikan terima kasih. IMANUEL.




<><><><><><> <><><><> <> <><><><><><> <><><><><><><><> <><><><><><><><> <><> <><> <><><><> <> <> <><><><><><> <><><><><><><><> <><><><><><><><> <><> <><> <><><><> <><>

DIKELUARKAN DI      :
PANIAI WEST PAPUA

PADA TANGGAL        :

01 DESEMBER 2010




TTD


<><><><><><> <><><><> <> <><><><><><> <><><><><><><><> <><> <><> <><><><> <> <> <><><><><><> <><><><><><><><> <><> <><> <><><><> <><>

KOLONEL OLIVA GOBAY

PANGLIMA KODAP IV PANIAI




WEST PAPUA


Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Ut odio. Nam sed est. Nam a risus et est iaculis adipiscing. Vestibulum ante ipsum faucibus luctus et ultrices.
View all posts by Naveed →

Google+ Followers

Translate

Followers

NEWS

papuatvnews

Loading...

Free West Papua Videos

Loading...

Aktivis Pro Papua Merdeka

Loading...

Free West Papua Compaign

Loading...